Tugas ke 2

14 04 2008

Rencana masa depan saya ,

Saya ingin menjadi orang sukses , dengan mendapat pekerjaan di suatu perusahaan besar

Kelebihan

1. Karena sudah ada saudara yang akan memasukkan saya pada suatu perusahaan besar yaitu HOLCIM di Jakarta

2. Karena punya Relasi dipastikan akan diterima pda perusahaan tersebut

3. Dalam hal mencari tempat tinggal sudah ada karena tinggal dirumah saudara sehingga menghemat uang

kelemahan

1. Jarak yang jauh antara surabaya dan jakarta

2. merasa belum siap untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar karena kurangnya pengalaman

3. belum tahunya bidang apa yang harus dikuasai berkenaan di perusahaan tersebut

Ancaman yang saya hadapi adalah

Saya akan jarang bertemu dengan orang tua saya dikarenakan jarak yang jauh antara surabaya dan jakarta, dan Saya tidak mengetahui bagaimana cara hidup disana karena lingkungan,biaya dan kondisi pada kota besar itu belum saya rasakan atau adaptasi.yang paling penting adalah bagaimana saya akan bisa berhasil dalam menjalani profesi disana dan saya rasa saat ini ilmu yang saya dapat masih kurang.

Untuk mengatasi Ancaman  yang saya hadapi

pertama saya akan sering berkomunikasi pada orangtua saya pada via telepon.dan kedua pada suatu saat sebelum saya mendapatkan pekerjaan saya akan berkunjung dirumah saudara saya yang ada dijakarta dan bertanya bagaimana bisa bertahan dan menyesuaikan hidup di jakarta pada hal saudara saya berasal di JAWA TIMUR . dan yang terakhir saya akan lebih mendalami ilmu saya yang berkenaan profesi yang saya ambil nanti sehingga disaat diterima saya sudah punya bekal disana dan tidak merasa minder atau kalau tidak bisa saya akan minta saudara saya ilmu apa saja yang saya capai untuk dapat berhasil pada perusahaan tersebut .

Motivasi

pada rencana tersebut dikarenakan saya anak satu – satunya dikeluarga saya dan saya kelak akan menjadi tulang punggung keluarga dan saya berkeinginan dapat menaikkan haji kedua orang tua saya karena saya ingin membalas budi pada orang tua yang telah membesarkan saya dari kecil hingga besar ini.Itulah dasar menjadi motivasi saya kenapa saya berencana tersebut.





Tentang Sifat Saya (Tugas)

4 04 2008

Saya akan mengalami masa bahagia bila apa yang saya inginkan bisa terwujud contohnya mendapat pekerjaan yang saya inginkan dan bila orang tua merasa bahagia saya juga ikut bahagia , juga dapat menyelesaikan semua tugas 2 dari dosen.

Saya akan mengalami masa sedih bila saya kehilangan barang yang saya suka atau mendapat nilai jelek pada mata kuliah saya dan yang paling merasa dalam keadaan sedih bila tidak punya uang.

Saya akan merasa marah bila ada seseorang telah menghina saya atau menyinggung saya . karena saya paling tidak suka bila ada anak menyakiti hati saya kalau dalam keadaan marah lebih baik saya menghindar saja.

TERIMA KASIH





Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ Oleh: Ubaydillah, AN

2 04 2008
 

Jakarta, 19 Mei 2004

 

Manusia adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Kemampuan menggunakan keunggulan ini dikatakan oleh William W Hewitt, pengarang buku The Mind Power, sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya. 

Sayangnya, menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia me-nganggur-kan kecerdasan itu. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan dan seterusnya.

 

Penemuan Seputar Kecerdasan

Thorndike adalah salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu kecerdasan Abstrak — Kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa, Kecerdasan Kongkrit — kemampuan memahami objek nyata dan Kecerdasan Sosial – kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional ( Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994)

Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990)

Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual / Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).

 

Kecerdasan Intelektual, Emosional & Spiritual

 

1.

Seputar Kecerdasan Intelektual

Sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah tehnis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini (1857 – 1911) lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:

a.  Pemahaman absolut terhadap skor IQ .

Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan    manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.

b. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika

Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik.  Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.

2.

Seputar Kecerdasan Emosional (EQ)

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat

3.

Seputar Kecerdasan Spiritual

Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar  (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001).

Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Penerapan IQ-EQ-SQ Dalam Kehidupan

IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat, berasal dari proses :

1. merumuskan keputusan,

2. menjalankan keputusan atau eksekusi, 

3. menyikapi hasil pelaksanaan keputusan.

Rumusan keputusan itu seyogyanya didasarkan pada fakta yang kita temukan di lapangan realita (apa yang terjadi) – bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka – tidak suka. Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada.

Rencana keputusan yang hendak kita ambil – hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh  sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini, yang harus dipertimbangkan, sehingga kita tidak bisa menggunakan rumusan logika – matematis untung rugi.

Kita pun sering menjumpai kenyataan, bahwa faktor human touch, turut mempengaruhi penerimaan atau penolakan seseorang terhadap kita (perlakuan kita, ide-ide atau bahkan bantuan yang kita tawarkan pada mereka). Salah satu contoh kongkrit, di Indonesia, budaya “kekeluargaan” sangat kental mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis, atau bahkan penyelesaian konflik.

 

Kesimpulan

Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Seperti kata Thomas Jefferson atau Anthony Robbins, meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan se-fleksibel orang berenang. 

Aplikasi keputusan dengan IQ, EQ, dan SQ ini hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri di dalam diri kita. “Kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)”. Selamat mencoba. (Jr)

 





Hello world!

18 03 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!